UPT. BIMBINGAN DAN KONSELING
Universitas Muhammadiyah Malang
UPT. BIMBINGAN DAN KONSELING
Universitas Muhammadiyah Malang

Ini Keuntungan Ibu Berikan ASI kepada Anaknya, dan Kerugian Ibu Tidak Berikan ASI kepada Anaknya

Author : Administrator | Sabtu, 20 Agustus 2016 06:37 WIB

Kampus tak hanya harus ramah pada bayi, namun juga wanita. Karena resikonya juga besar kepada ibu yang tidak memberikan air susu ibu (ASI)-nya.

Yaitu berbagai penyakit seperti kanker payudara, depresi post partum, obesitas dll. Dalam ASI ada zat anti kanker yaitu HAMLET (Human Alpha-lactalbumin Made Lethal to Tumour), yang bisa membunuh 40 jenis sel tumor berbeda dengan mekanisme non toksik dan tak mengganggu sel sehat.

Sedang ke anak yang kebanyakan minum susu formula juga memberi dampak. Hal itu dijelaskan oleh dr Utami Roesli, Ketua Pembina Sentra Laktasi Indonesia, Jumat (19/8/2016) saat workshop "Baby Friendly Campus" di auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Kegiatan itu diikuti ketua program studi dan sekretaris program studi di FK UB. Menurut dokter anak senior di RS St Corolus Jakarta ini, menyusui dianjurkan oleh WHO setelah bayi lahir.

"Anak sebagai titipan atau amanah Allah ke kita, jadi harus kita berikan yang terbaik. Jika bisa menyusui dengan tepat atau tidak, yang salah adalah pimpinan yang punya tempat," ujar dokter spesialis anak ini.

Ia mencontohkan di sebuah institusi di Jakarta memberikan ruang untuk anak-anak pekerjanya. Mereka didampingi baby sitter-nya. Namun saat anak perlu ASI, maka ibu dipanggil untuk menyusui.

Menurut dia, masalah pemberian ASI sudah diatur dalam UU Kesehatan No 36/2009 pasal 128. Disebutkan setiap anak wajib mendapatkan ASI eksklusif. Untuk itu, pemenuhan tempatnya harus disediakan institusi karena ada sanksinya, yaitu denda dan penjara. Yaitu akan mengenai pimpinan institusi.

"Untung belum ada KPK ASI. Kalau ada pasti banyak yang kena dan penjara penuh," ujar Utami. Ia tidak ingin menakuti karena sudah ada UU-nya. Hal itu berlaku untuk semua korporasi termasuk lembaga pendidikan. Termasuk untuk mahasiswinya agar bisa memberikan ASI eksklusif.

Untuk itu, manajemen lembaga perlu mengeluarkan regulasi internal tertulis dan menyediakan tempatnya, termasuk tempat untuk memerah ASI. Dr Wisnu Barlianto, Wakil Dekan I FK UB Malang dalam sambutannya menyatakan pemberian ASI pada bayi selain baik untuk kesehatan juga bisa menekan biaya karena tidak perlu beli susu formula.

"Pemberian asi bukan monopoli tugas wanita saja, tapi perlu dukungan suami dan anggota keluarga yang lain," katanya. Kampus, lanjutnya, sebagai institusi pendidikan harus memberi contoh baik.

"Kita mencetak dokter dan perawat, tapi kok di tempat kita tidak friendly untuk ASI, pemberian ASI ekskusif," jelasnya. Padahal kepada mahasiswa kedokteran, kita, lanjutnya, selalu menyatakan pemberian ASI penting.

Karena itu, FK akan membuat sistem, sarana prasarana dan SDM-nya agar FK jadi kampus yang mother and baby friendly. Menurut rencana, tempat untuk itu akan ada di gedung baru yang sedang diselesaikan pengerjaannya.

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image