UPT. BIMBINGAN DAN KONSELING
Universitas Muhammadiyah Malang
UPT. BIMBINGAN DAN KONSELING
Universitas Muhammadiyah Malang

PERKEMBANGAN MORAL YANG SEHAT PADA ANAK

 PERKEMBANGAN MORAL YANG SEHAT PADA ANAK

Terima kasih kepada kamera telepon genggam, kini kita tahu bahwa beberapa saudara-saudara sebangsa kita memiliki tingkat moral yang cukup menyedihkan. Ambil saja sebagai contoh, kasus-kasus pemukulan yang dilakukan senior-senior sekolah tinggi negeri pada junior sealmamaternya. Bahkan salah satu dari kasus-kasus ini sudah membuat jatuhnya korban jiwa. Ada juga ulah geng motor wanita yang dengan mudah main pukul, atau rekaman murid-murid sekolah menengah yang melakukan aktifitas seks didepan kamera. Entah mereka menyadari atau tidak konsekuensi perilaku mereka tersebut bagi masa depan mereka.

 

Kita juga masih punya data-data lain yang menunjukkan bahwa ada saudara sebangsa kita yang moralnya tidak berkembang, misalnya, Indonesia masih dianggap sebagai negara terkorup se-Asia Pasifik. Lalu ada pula kasus Selly Yustiawati, wanita cantik yang dilaporkan telah melarikan puluhan juta rupiah uang teman-temannya sendiri. Tentu daftar ini akan tambah panjang jika kita memasukkan kejadian amoral sehari-hari di sekitar kita (misalnya, melanggar lalu lintas).

Betapa ironis jika kita menyadari bahwa jawaban untuk masalah-masalah di atas sebenarnya hanya satu, yaitu, perkembangan moral yang sehat.

Moral adalah sikap dan keyakinan yang dipegang oleh seseorang mengenai apa yang salah dan apa yang benar. Seseorang yang moralnya berkembang dengan baik memiliki pengetahuan tentang peraturan etis dan penilaian mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Ia juga harusnya bertindak sesuai dengan pengetahuan dan penilaian yang ia miliki. Secara emosi, ia memiliki empati terhadap orang lain sehingga tahu kalau ia melakukan hal yang salah, ia akan menyakiti orang lain tersebut dan merasa bersalah. Perilaku-perilaku yang mulia, bukan? Bagaimana cara mendapatkannya?

Menurut ilmuan-ilmuan yang membahasnya, seperti Piaget dan Kohlberg (dalam Hetherington & Parke, 1993), sebenarnya moral akan tumbuh dengan sendirinya pada anak yang normal. Pada dasarnya, manusia adalah mahluk yang baik. Hanya saja, pada beberapa manusia (sayangnya, cukup banyak di negara kita), pertumbuhan tersebut tidak berjalan dengan semestinya.

Pada artikel ini, saya tidak akan membahas cara mengatasi perilaku orang-orang yang moralnya tidak berkembang. Saya lebih tertarik untuk melakukan sesuatu yang dapat kita kerjakan bersama-sama. Sesuatu itu adalah melakukan pencegahan terhadap hal menyedihkan yang telah dibahas di atas, yaitu, tidak berkembangnya moral.

Cara pertama untuk mencegah agar moral anak (atau adik) Anda tidak berkembang adalah, mengetahui tahapan-tahapan perkembangan moral. Jika sudah tahu kapan moral anak Anda harusnya meningkat, Anda akan menyadari jika ada abnormalitas yang terjadi. Maka, perhatikan jadwal normal dari pertumbuhan moral* di bawah ini, dan jika anak Anda terlalu jauh ketinggalan, segera konsultasi pada psikolog.

 

Tahap 1:

Berperilaku baik karena harus menurut dan takut hukuman
Pada umur 5 tahun, anak sudah mengerti konsep aturan. Mereka sudah tahu kalau ada orang yang lebih berkuasa dari mereka (biasanya orang tua) dan sudah bisa untuk diajarkan menuruti aturan mereka untuk menghindari hukuman. Mulailah ajarkan bahwa ada perilaku yang baik dan buruk dengan menetapkan aturan di rumah.

Tahap 2:

Berperilaku baik karena mengharapkan hadiah
Pada umur 7 tahun, anak Anda sudah bisa diajarkan untuk mengenali sesuatu sebagai hal yang baik dan buruk, dengan bantuan hadiah. Pada tahap ini, pemberian hadiah/reward berupa barang yang disukai atau pujian jika anak berbuat hal baik akan membantu anak memisahkan mana yang baik dan mana yang buruk. Inilah saatnya bagi orang tua untuk mengukir pengetahuan tentang apa yang baik dan apa yang buruk di pikiran anak.

Tahap 3:

Moralitas “anak baik-baik”Berperannya tahapan ini mulai terlihat pada umur 10 sampai 13 tahun. Pada tahap ini, anak menganggap sesuatu itu baik atau buruk, tergantung pada penilaian orang di sekitarnya. Jika orang yang anak anggap penting (orang tua, saudara, dan/atau teman) menganggap sesuatu baik, maka anak menganggapnya baik. Pada saat inilah anak-anak yang tidak dekat dengan orang tuanya rentan kepada ajakan teman-temannya untuk melakukan hal yang buruk. Orang tua harus sebisa mungkin menjaga hubungan baik dengan anak yang mulai memasuki usia remaja ini, agar anak tetap mengkiblatkan penilaian baik-dan-buruk pada orang tua.

Tahap 4:

Moralitas untuk mentaati peraturan di masyarakat
Jika pada tahapan-tahapan sebelumnya, moralitas anak berkembang dengan baik (anak mengetahui mana yang baik dan buruk) karena bantuan orang-orang di sekitarnya, maka pada tahapan ini anak akan mulai berpikir sendiri. Anak akan mulai melihat ke masyarakat untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Ia akan mulai memperhatikan peraturan sosial (misal, hukum lalu lintas) dan berpikir apakah akan menaatinya (agar tidak ada kecelakaan) atau tidak (karena orang lain juga tidak menaatinya). Orang tua masih harus berperan untuk meluruskan persepsi para remaja ini. Tahapan ini mulai meningkat drastis pada umur 10 tahun, tapi baru akan mencapai tahap pertumbuhan yang tinggi pada umur 13 tahun.

Kebanyakan orang hanya akan mencapai tahap 4. Maksudnya, seseorang akan menjadi orang yang cukup baik (bermoral) jika memiliki pandangan bahwa ia harus menuruti hukum yang berlaku disekitarnya. Tetapi, masih ada dua tahapan perkembangan moral lainnya. Hanya orang-orang yang memiliki kapasitas kognitif yang cukup tinggi yang dapat mencapainya.

Tahap 5:

Moralitas kontrak, hak individual, dan hukum demokrasi
Pada tahap ini, individu menyadari bahwa moralitas sebenarnya adalah persetujuan orang-orang tentang apa yang dianggap benar. Misalnya, seseorang bernama R.A. Kartini menyadari bahwa masyarakat Indonesia menjunjung tinggi budaya timur karena dianggap mengajarkan perilaku yang dianggap baik. Kartini menyadari bahwa persetujuan ini memiliki niat yang baik dan telah memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat. Tetapi, ketika budaya timur mengekang wanita untuk maju, maka Kartini menyuarakan perubahan dengan mengadakan emansipasi wanita. Tahap ini mulai meningkat pesat pada usia remaja dan mencapai puncaknya pada usia 25 tahun. Setelah itu, peningkatannya tidak setajam sebelumnya.

Tahap 6:

Prinsip pribadi dan nurani. Pada tahapan ini, individu melakukan sesuatu yang dianggap baik dan menghindari sesuatu yang dianggap buruk untuk menenangkan nuraninya. Individu yang mencapai tahapan ini sudah mengerti konsep-konsep abstrak seperti keadilan, kasih sayang, dan kesamaan hak antar manusia. Ia akan berani menentang norma sosial jika menurutnya norma tersebut tidak logis dan masyarakat mengikutinya hanya karena takut dianggap menyeleweng dari norma. Ini adalah moralitas yang dianggap paling dewasa. Manusia mencapai tahapan ini pada usia yang berbeda-beda.

Cara-cara tambahan yang dapat menumbuhkan moral anak berkembang dengan baik. Orang tua yang menginginkan moral anaknya untuk berkembang dengan baik, tentu tidak ingin hanya berpangku tangan saja. Selain membiarkan moral anak untuk tumbuh dengan normal, orang tua bisa memberikan suplemen moral tambahan untuk menyuburkan moral anak. Suplemen-suplemen yang bersifat sebagai pupuk dari moral tersebut, adalah:

·       Mendorong anak untuk aktif dalam masyarakat. Jangan halangi anak untuk bermain dengan teman sebayanya. Puji anak jika ia mengambil peran yang penting di masyarakat, misalnya menjadi ketua kelas atau aktif di kegiatan remaja. Dengan menceburkan diri ke masyarakat, anak akan menemukan berbagai perilaku dan konsekuensinya. Sehingga, anak akan dapat melihat dengan objektif perilaku mana yang baik, dan apa untungnya jika melakukan hal tersebut. Ia juga akan belajar mengenai peraturan di masyarakat dan fungsi dari peraturan dalam mengatur ketertiban.

·            Mencarikan sekolah yang melakukan pengajaran berbasis diskusi. Ada baiknya jika anak tidak sekolah yang melulu menceramahi anak. Anak perlu menggunakan pengetahuannya agar tidak hanya menjadi hafalan. Dengan berdiskusi, ia bisa melihat dampak dari suatu keputusan terhadap hidup manusia. Ia pun akan bisa menentukan hal yang buruk walaupun mempunyai label baik. Misalnya, anak tahu bahwa agama mengajarkan kebaikan, tetapi bom bunuh diri yang mengatasnamakan agama itu tetap buruk karena memakan korban rakyat sipil.

·            Melakukan cara asuh yang sesuai dengan pertumbuhan moral anak. Seperti yang telah dijelaskan, saat kecil anak akan berbuat baik jika ia dihukum saat melakukan hal buruk. Kemudian, perbuatan baik anak disebabkan oleh hadiah yang ia dapat dari lingkungan. Makin lama, anak akan makin rasional. Orang tua harus mengikuti pola ini. Didiklah anak dengan hukuman pada awalnya, kemudian beranjak ke penggunaan hadiah, lalu sedikit demi sedikit menjelaskan baik-dan-buruk dengan penjelasan yang masuk akal.

·            Memberikan contoh yang baik. Hadirnya seseorang yang bisa menjadi panutan dari perbuatan baik terbukti dapat meningkatkan moral anak.

·            Kenalkan anak pada tahapan moral di atas tahapan yang sedang dijalani. Misal, anak sudah mengembangkan tahap “moralitas anak baik-baik” dengan baik. Saat anak melakukan hal baik untuk mendapat persetujuan orang tua, jelaskan bahwa jika orang tua tak ada, anak harus tetap melakukan hal baik karena itu adalah peraturan yang ada di masyarakat. Dengan begitu, anak akan mulai menyadari bahwa ada sistem moral lain dari yang ia anut saat ini.

·            Tumbuhkan empati anak. Jika bertemu dengan kejadian yang berkaitan dengan moral, sempatkan diri Anda untuk mengajarkan sesuatu pada anak. Misal, saat ada berita pemukulan senior sekolah tinggi kepada juniornya, orang tua dapat menjelaskan kepada anak, “Lihat. Kasihan, ya, orang-orang yang dipukul itu. Apa orang yang memukul tidak tahu kalau orang yang dipukul punya keluarga? Keluarga ini pasti sedih kalau tahu anak/saudaranya dipukul. Orang yang memukul juga akan sedih kalau anak/saudaranya dipukul, kan?”

* Catatan: Jadwal pertumbuhan moral disadur dari teori pertumbuhan moral milik Kohlberg dan Piaget.


Refprensi :

Dworetzky, J.P. (1997). Introduction to Child Development (4th ed.). New York: West Publishing Company.

Hetherington, E.M., & Parke, R.D. (1993). Child Psychology: a Contemporary Viewpoint (4th ed.). New York: McGraw-Hill Inc.



 

Shared: